Rabu, 04 Januari 2017

Air Terjun Dwi Warna

SEDIKIT CERITA TENTANG AIR TERJUN DWI WARNA




Siapa yang tak kenal dengan air terjun ini air terjun yang termasuk icon pariwisata di Sumatera Utara memiliki keindahan yang tak terduga ketika kita sudah sampai di air terjunnya terletak di bukit perkemahan Sibolangit kab. Deli serdang tersebut cukup lumayan jauh dari kota medan yang menempuh kurang lebih 1,5 jam menuju ke arah berastagi, nah ketika kita sudah sampai di posko , dengan biaya 25 rb per orang minimal 10 orang dalam 1 team semakin ramai kita maka semakin murah jika hanya beberapa orang saja maka tarif masuk akan mahal hingga 100 rb per orang, kita akan di bawa oleh seorang guide dengan memempuh perjalanan kaki kurang lebih selama 2 jam melewati hutan lindung tracking yang kita lewati cukup lumayan karna ke tempat ini akan selalu hujan gunung jalanan selalu berlupur, nah ketika kita sudah sampai pada air terjunnya mata kita akan dimanjakan dengan dua air tejun dengan satu air terjun yang berwarna biru muda dan satu lagi dengan air yang jernih dan tinggi air terjun ini terbilang cukup tinggi dan bagi yang tahan dengan dinginnya air bisa mandi di bawah air terjun tersebut. View yag kita liat sangatlah indah yang di kelilingi tebing-tebing tinggi dan sisi kanan dan kiri di penunihi pepehonan tinggi hutan lindung.

tetapi sayangnya tempat ini tinggal kenangan dan sekarang di tutup dan di jadikan hutan lindung sumatera, bukan tampa sebap tempat ini di tutup karna tempat ini pada tahun 2016 tepat nya tanggal 15 mei 2016, terjadi banjir bandang yang cukup memakan banyak korban sekitar 24 orang dan sampai saat ini 2 orang nya lagi belum ketemu , aku sendiri sangat sedih melihat para korban dan termasuk teman saya yang memiliki adik bernama “Aderiana Sihombing” menjadi korban banjir di air tenjun dwi warna tersebut, di sini siapa yang kita salahkan, menurut saya karna pengelola air terjun yang sangat serakah dengan mengelola air terjun seolah-olah air terjun tersebut itu adalah dia yang ciptakan dan dia pun mengelolah tempat tersebut dengan sendiri tidak mau di campuri tangan pemerintah atau pun dinas pariwisata sekalipun, kesalahan yang sangat fatal nya adalah ketika hujan dan saat itu pengunjung sangat ramai pengelolah pun tidak memberikan batasan dan memberhentikan pengunjung untuk masuk dan tidak menghimbau anggota guidenya untuk segera balik jika cuaca hujan, nah yang aku kesalkan  kenapa dalam satu team dia sanggup membuat team 100 orang dengan 1 orang guide tak sebanding dengan apa yang seharus nya kita dapatkan fasilitas setelah kita bayar, ibarakan seorang sedang membawa ratusan ekor bebek, saya sangat mengecam pengelola tersebut bukan hanya mememasang tarif yang mahal dan tak sebanding dengan guide yang terkadang tidak bertangguung jawab,
 sedikit cerita sebelum banjir bandang datang seketika langit tiba-tiba gelap dan hujan di sertai petir yang sebentar kemudian air terjun yang berwarna biru tersebut berubah menjadi coklat dan sebagian yang di posisi aman masih bisa naik ke atas sementara yang berada di bawah tidak sempat menyelamat kan diri karna batu-batu sangat besar dan kayu-kayu besar ikut dalam banjir yang sangat besar itu sayang nya guide tidak sigap dalam hal tersebut tidak bisa membaca situasi alam yang sudah terlihat jelas, tetapi semua ini sudah takdir yang tidak bisa kita salahkan orang karna semua bencana itu datang nya dari allah dan kita sebagai manusia hanya bisa berdoa meminta keselamatan dan lindungan dari allah, dan dari hal ini kita bisa ambil sebuah pembelajaran ketika kita sedang berada di alam maka pandai-pandailah kita membaca situasi alam yang terkadang bisa berubah seketika. Dan buat sahabat ku ARDIAN SIHOMBING aku turut berduka mengenai adik mu kawan.
Dan sekarang tempat ini di tutup selamanya dan di jadikan sebagai hutan lindung di sumatera utara. 

Salam lestari dari ku #DEHANJOURNEY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesona Festival Milangkala, Apresiasi Masyarakat Pangandaran

Halo kawan, kali ini Dehan mau lanjutin cerita masih bersama Kemempar dan Fam Trip Pangandaran setelah kita mengeksplore kekayaan alam d...